Yang Saya Dengar dari Timor Leste

Yang  Saya Dengar dari Timor Leste

Direktur Operasional, Pemberitaan, dan Jaringan Disway.id, Mashudi bersama Domingos Savio, Counsellor Embassy of the Democratic Republic of Timor Leste di Kantor Disway, Palmerah Barat No.353, komplek kampus widuri, Blok A1-3, Kebayoran Lama, Jakarta Sela-disway.id-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Sebelum tahun 1999, kita mengenalnya sebagai Provinsi Timor Timur. Provinsi ke-27. Dulu sering jadi soal. Dan jadi jawaban.

Semua berubah setelah referendum 30 Agustus 1999. Mayoritas memilih berpisah.

Pada 20 Mei 2002, lahirlah negara baru yang berdaulat: Timor Leste.

BACA JUGA:Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Kemarin. Di kantor Disway, Palmerah, Jakarta, saya menerima konselor Timor Leste.

Namanya D. Savio. Sekolah sampai kuliah di Indonesia. Bahasanya lancar.

Cara berpikirnya terasa dekat. Perbincangan kami hangat.

Ia bercerita banyak. Tentang negaranya. Tentang bagaimana mereka membangun dari nol.

Saya tidak akan menulis semuanya. Cukup yang membuat saya berpikir. Tentang kesehatan.

BACA JUGA:Terjebak Arsip: Negarawan di Cermin Retak

Di sana, layanan kesehatan publik digratiskan bagi warga. Negara hadir. Walau fasilitas belum sempurna, arah kebijakannya jelas: melindungi.

Tentang pendidikan. Sekolah negeri dari dasar sampai menengah digratiskan.

Bahkan diwajibkan. Tidak boleh ada yang tidak sekolah.

Ada program makan di sekolah: Merenda Escolar. Untuk anak prasekolah dan sekolah dasar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: