Aksi Perguruan Tinggi Atasi Tantangan Kesehatan Nasional

Aksi Perguruan Tinggi Atasi Tantangan Kesehatan Nasional

Cek kesehatan gratis untuk masyarakat umum. -Dokumentasi UB-

SARASEHAN Kebangsaan pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) Tahun 2026 menegaskan pentingnya penguatan transformasi pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi menuju hilirisasi. Dalam pemaparan Presiden Prabowo Subianto, sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas strategis yang memerlukan dukungan aktif dari perguruan tinggi melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang memiliki mandat dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan, Universitas Brawijaya (UB) berkomitmen menerjemahkan arah kebijakan nasional tersebut ke dalam berbagai program. Yakni program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat. Serta pengembangan evidence-based policy (kebijakan berbasis bukti). 

Beberapa isu prioritas beserta rencana tindak lanjut Universitas Brawijaya diuraikan sebagai berikut.

1. Pengendalian Sindrom Metabolik dan Karies Gigi melalui Edukasi Gizi dan Literasi Kesehatan

Presiden Republik Indonesia menekankan bahwa penyakit tidak menular masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat Indonesia. Prevalensi berbagai faktor risiko metabolik, seperti hiperkolesterolemia (42,5%), hipertensi (15,1%), diabetes melitus (21,6%), serta tingginya kasus karies gigi (17%), menunjukkan perlunya penguatan upaya promotif dan preventif secara berkelanjutan.

BACA JUGA:Biomassa dan Masa Depan Kemandirian Energi Indonesia

BACA JUGA:Optimalisasi Kampus sebagai Hub Dunia Global, Dunia Usaha, dan Dunia Industri

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 mengenai penyajian informasi kadar gula, garam, dan lemak pada makanan siap saji sebagai bagian dari strategi peningkatan literasi kesehatan masyarakat.

Universitas Brawijaya akan mendukung implementasi kebijakan tersebut melalui beberapa langkah strategis, yaitu:

  • Mengintegrasikan substansi regulasi mengenai pelabelan gula, garam, dan lemak ke dalam kurikulum pendidikan tenaga kesehatan.
  • Mengembangkan media edukasi kesehatan berbasis bukti bagi masyarakat sebagai bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
  • Melaksanakan monitoring dan evaluasi implementasi kebijakan di masyarakat melalui penelitian multidisiplin.
  • Menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis hasil penelitian sebagai masukan bagi pemerintah dalam penyempurnaan program pengendalian penyakit tidak menular.


--

2. Penguatan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) melalui Optimalisasi Peran Tenaga Kesehatan

Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan berkala menjadi perhatian nasional. Lebih dari 90% masyarakat Indonesia belum melakukan pemeriksaan kesehatan rutin setiap tahun. Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah meluncurkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan satu kali setiap tahun bagi seluruh masyarakat.

Universitas Brawijaya memandang bahwa keberhasilan Program CKG tidak hanya bergantung pada pelaksanaan skrining, tetapi juga memerlukan penguatan tindak lanjut promotif, preventif, edukatif, dan monitoring kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, UB akan:

  • Mendukung pelaksanaan monitoring dan evaluasi hasil Program CKG melalui penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
  • Mengembangkan model intervensi promotif dan preventif berbasis komunitas yang melibatkan berbagai profesi tenaga kesehatan secara interprofesional.
  • Mendorong penguatan kebijakan nasional mengenai program internship atau magang bagi tenaga kesehatan non-medis, seperti ahli gizi, perawat, bidan, apoteker, dan tenaga kesehatan masyarakat.

BACA JUGA:Kembali Turun Harga, Emas Antam Jatuh Hingga ke Rp 2.641.000 per Gram

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: