Hakka Ngiau

Hakka Ngiau

--

Saya satu panggung dengan Ahok kemarin. Di museum suku Hakka di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

Ada juga Teuku Azmi Abubakar di situ: tokoh Aceh yang punya pustaka Tionghoa Peranakan di Banten. Ia alumnus teknik sipil Institut Teknologi Indonesia, Tangerang. Ia membangun gedung dua lantai untuk berbagai dokumen, buku, dan artefak Tionghoa Peranakan.

Setiap Agustus suku Hakka memang mengadakan seminar kebangsaan di situ. Kali ini bersama marga Yap Indonesia yang diketuai oleh Haryanto Yap.

Anda sudah tahu: setiap orang Tionghoa punya dua identitas. Identitas suku dan identitas marga. Misalkan Anda suku Hakka, atau Tiuchu, atau Hokkian, Guangshao, Manchu, dan seterusnya. Di setiap warga suku itu marganya berbeda-beda. Di suku Hakka ada yang bermarga Chen (Tan). Di suku Hokkian juga ada yang bermarga Chen. Semua suku punya semua marga. Semua marga ada di semua suku.

Ketua suku Hakka di Indonesia, Sugeng Prananto adalah juga ketua marga Yap Indonesia. Haryanto tadi ketua hariannya.

Masing-masing suku juga punya lagu resminya sendiri-sendiri. Pun semua marga. Di forum kemarin, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, diputar juga lagu suku Hakka. Lalu diputar pula lagu ''kebangsaan'' marga Yap. Lain kali kalau penyelenggaranya marga Huang diputar lagu resmi marga Huang –yang di Indonesia ditulis sebagai marga Oei.

Malu: baru sekali ini saya ke Museum Hakka. Dulu, ketika Presiden SBY meresmikannya, saya tidak bisa ikut serta. Beberapa kali diundang ke acara di situ selalu berhalangan.

Museum Hakka ini (disebut juga suku Khek atau Kejia) ternyata bagus sekali. Lokasinya tidak jauh dari gedung teater Keong Emas dan anjungan Sulawesi Tenggara. Bentuk bangunan museum ini dibuat mirip rumah besar tradisional suku Hakka di masa lalu: satu rumah besar untuk banyak keluarga.

Tembok luar rumah besar itu melingkar. Bulat. Tinggi. Setinggi rumah tiga lantai. Pintu masuknya hanya satu: pintu gerbangnya. Puluhan rumah tangga berada dalam satu rumah besar.

Semua kamar/rumah menghadap ke dalam: ke halaman luas yang bentuknya bulat –mengikuti bentuk luarnya. Halaman itu menjadi halaman bersama. Ada yang tinggal di lantai dua atau tiga. Lantai pertamanya untuk ternak dan logistik.

Bentuk museum ini dibuat sangat mirip dengan itu. Tiap kamarnya, di tiga lantai, difungsikan sebagai museum. Halamannya difungsikan untuk ruangan besar melingkar. Bisa untuk 1000 orang. Di situlah seminar kebangsaan kemarin berlangsung. Bedanya, di museum ini ''halaman'' tengahnya beratap. Sedang di rumah besar yang asli atapnya langit dan kadang mendung.


--

Kini, di daerah asal suku Hakka di Tiongkok tidak ada lagi orang yang tinggal di rumah besar seperti itu. Beberapa rumah besar peninggalan masa lalu masih ada. Sudah sangat tua. Dijadikan objek wisata.

Saya pernah mengunjungi rumah besar yang masih asli di sana: di kabupaten Mexian, bagian utara provinsi Guangdong. Sudah terlihat kusam kuno. Ketika naik tangga ke lantai atas muncul rasa khawatir: tangga kayunya seperti lapuk.

Setiap kali ke Meixian saya tidur di Meizhou, kota terbesarnya. Di kunjungan ketiga tahun lalu Meizhou sudah berubah total: menjadi sangat 靚女 –ciang ngi, cantik dalam bahasa Hakka. Piao liang dalam bahasa Mandarin. Di kunjungan ketiga itu saya juga ke Sunkou –pelabuhan sungai yang hampir semua orang Hakka perantauan mengenangnya. Dari tepi sungai itulah orang-orang Hakka berangkat meninggalkan kampung halaman menuju Nan Yang –laut selatan. Itu bisa berarti, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, atau Indonesia.

Di daerah baru itu mereka menyatu dan jadi tokoh setempat: Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew adalah orang Hakka. Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra juga orang Hakka. Pun Presiden Filipina Corazon Aquino.

Siapa tahu kelak Ahok, orang Hakka dari Belitung juga akan jadi seperti Lee Kuan Yew untuk Indonesia.

Itu tidak mustahil –kalau Tuhan sudah menakdirkan begitu. Anda sudah tahu: untuk pilpres akan datang tidak perlu lagi batas minimal perolehan suara partai.

PDI-Perjuangan bisa mengajukan calon sendiri. Partai itu tidak punya banyak pilihan. Ahok bisa dimajukan. Kalau perlu dipasangkan dengan Mahfud MD. Atau sebaliknya. Mereka bisa terpilih. Orang sudah muak dengan korupsi. Ahok-Mahfud bisa jadi pilihan. Atau tidak.

"Itu tidak mungkin," ujar Ahok ketika kemungkinan itu saya bisikkan ke telinga kirinya. Alasannya: ia pernah dituntut hukuman lima tahun sehingga hak pencapresannya hilang.


--

Aneh. Ternyata yang jadi ukuran ''tuntutan'' jaksa saat di pengadilan. Bukan vonis hakim. Bagaimana UU-nya bisa begitu hanya Anda yang tahu.

Hebatnya, untuk pilkada, aturan itu sudah tidak berlaku. Yakni sejak ada yang menggugat UU itu ke Mahkamah Konstitusi. Dikabulkan. Berarti bagi orang yang ingin mencapreskan Ahok cepat-cepatlah ajukan gugatan ke MK.

Di forum itu saya hanya menyinggung sedikit peristiwa di seputar proklamasi kemerdekaan. "Hampir saja presiden pertama kita bukan Bung Karno. Siapa?" pancing saya. Ternyata tidak ada yang tahu.

Pertengahan Agustus 1945, para pemuda-aktivis Jakarta tahu Jepang sudah menyerah-kalah (15 Agustus 1945). Mereka berpendapat saatnya Indonesia merdeka. Mereka pun bersepakat menjadikan Amir Syarifuddin sebagai presiden kita.

Tapi Amir tidak ditemukan lagi di mana –ternyata sedang di penjara Lowokwaru, Malang. Sebagai gantinya para pemuda memilih Sutan Sjahrir sebagai presiden. Sjahrir tidak mau. Masih terlalu muda. Umurnya belum 30 tahun. Belum ada MK saat itu.

Sjahrir lantas minta agar Bung Karno saja yang jadi presiden. Sjahrir berpendapat Bung Karno-lah yang mampu menyatukan bangsa Indonesia.

Anda sudah tahu: Bung Karno tidak mau. Bung Karno pilih menunggu janji Jepang memberikan kemerdekaan pada Indonesia suatu saat kelak. Para pemuda tidak puas. Mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta, dibawa ke Rengasdengklok, Karawang. Di sana Bung Karno dan Bung Hatta dipaksa menyatakan kemerdekaan.

Zaman itu Rengasdengklok masih kampung tani dan nelayan yang amat miskin. Tidak ada rumah yang layak untuk dipakai Bung Karno dan Bung Hatta bermalam. Ups...ada. Di rumah itulah Proklamator Kemerdekaan Indonesia bermalam di Rengasdengklok. Itu adalah rumahnya 饒吉祥. Dibaca Ráo Jíxiáng. Rao dalam bahasa suku Hakka dibaca Ngiau.

Pemilik rumah itu memang orang suku Hakka.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 Agustus 2026: Life Begins

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DIRUT PTDI SAAT INI ADALAH GENERASI “YANG DIBENTUK HABIBIE SEBAGAI PEWARISNYA”: SEMOGA CITA-CITA PAK HABIBIE BISA SRGERA DIWUJUDKAN.. Membaca perjalanan Gita Amperiawan, saya teringat satu hal. Habibie tidak hanya membuat pesawat. Ia juga menyiapkan manusia yang kelak meneruskan gagasannya. Gita salah satunya. Setelah lulus ITB, ia mendapat beasiswa BJ Habibie untuk S-2 di Inggris. Bidangnya ilmu material canggih kedirgantaraan. Lalu berlanjut ke Cranfield University untuk doktor teknik mesin pesawat. Yang menarik, Gita tidak berhenti pada gelar. Karya ilmiahnya banyak dipublikasikan secara internasional. Bidangnya juga lengkap. 1) Penerbangan. 2) Perawatan pesawat. 3) Marketing. 4) Manajemen industri pesawat. Ditambah MBA dari ITB. Jadi Gita bukan sekadar “orang yang pernah belajar kepada Habibie”. Ia adalah bagian dari generasi yang dibentuk oleh ekosistem pemikiran Habibie. 1) Ilmu. 2) Riset. 3) Teknologi. 4) Industri. Semuanya harus menjadi satu ekosistem. Kini generasi itu berada di pucuk PTDI. Tantangannya bukan kecil. Membangun kembali industri pesawat nasional selalu mengundang kepentingan besar. Semoga cita-cita Habibie bisa diwujudkan dengan aman. Tidak perlu takut bersaing. Tetapi juga jangan lengah. Sebab negara penghasil pesawat tentu senang kalau kita hanya menjadi pembeli. Mereka pasti kurang senang kalau kita mulai menjadi pesaing.

xiaomi fiveplus

artikel hari ini optimis sekali, tapi kami-kami ini lelah mental karena terlalu sering kecewa.

Liam Then

Jadi maapkan saya Pak Jenderal Gita. Saya soja hormat pada Pak Jenderal, mampu geliatkan kembali PT.DI. Apa yang saya tulis kan di atas cuma imbas dari membaca tulisan pak di yang menyebabkan saya berpikir ke arah itu. Karena saya entah kenapa merasa framing tulisan Pak DI hari ini tentang geliat PT DI, sebagai prestasi nasional yang penting. Tentang sesuatu yang hidup kembali. Karena itu saya jadi kepikiran, apa sebenarnya yang lebih penting daripada geliat ekonomi domestik dan penciptaan lowongan kerja bagi puluhan juta rakyat Indonesia. Dan secara terkait, bagaimana hal itu bisa dilakukan secara cost effective tanpa komponen devisa asing?

Liam Then

Tulisan Pak DI hari ini entah kenapa bikin saya mikir, betapa kadang kita terlalu melihat ke hal yang rumit-rumit dan sulit. Ketika sebenarnya banyak hal yang mudah bisa kita kerjakan dan secara biaya dan skala lebih mengimbas ke ekonomi nasional secara murah meriah,tanpa perlu korban devisa besar. Tulisan Pak DI membuat saya kepikiran, tentang frame/pola berpikir kita yang kadang menganggap pencapaian di bidang tertentu itu sebagai suatu prestasi,tapi melupakan efektifitas biaya dan imbasnya ke perekonomian domestik.

Linggar Baero

Tetuka Pak Habibi orang yang berfikir melampaui zamannya. Ini terbukti, ekonomi nasional kt sejak merdeka hingga saat ini ditopang oleh produk2 SDA. Dulu hutan, kayunya habis; sekarang batu bara, nikel, emas, apa lagi? Suatu saat nanti pasti akan hbs jg. Kita belum tahu, apa nanti penggantinya jk itu terjadi. Rare earth? Moga-moga. Hal itu sudah difikirkan oleh Pak Habibi 50 tahun yang lalu. Visi/misi-nya adlh ekonomi nasional harus ditopang oleh 'value creation' dari otak-otak cerdas anak bangsa melalui penguasaan teknologi tinggi. Namun, mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, datanglah krismon. Lamat-lamat saya ingat, saat itu ada friksi di level nasional antara para teknokrat (teknologi) dengan para ekonom, tentang skala prioritas pembelanjaan APBN demi menyelamatkan ekonomi nasional. Sejarah akhirnya mencatat apa yang sudah terjadi hingga saat ini. Soal pesawat CN. Pemasarannya masih seret, hingga ada negara luar yang beli secara barter dengan beras ketan. Hoo riuh banget jadi bahan olok-olokan. Yang paling membuat aku ikut tersenyum kecut adalah joke tentang Tetuka. Tetuka adalah nama pesawat CN; diambil dari nama bayi Gatotkaca. Masih ingat kan? Tetuka: sing teka ora tuku-tuku, sing tuku ora teka-teka... Saat diminta memberi komentar tentang arti kemerdekaan di kantor pekan lalu, saya bilang bangsa ini pernah kehilangan satu mata rantai untuk menjadi negara maju dan berdaulat: semangat menguasai teknologi. Tabik!

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Ahmad Zuhri.. PAK GITA MEMULAI PENDIDIKAN MILITERNYA DARI SEPAMILSUK, BUKAN AKADEMI ANGKATAN.. Bapak benar. 1) AAL dilaksanakan di Bumimoro Surabaya. 2) AAU dilaksanakan di Maguwo Yogyakarta. Tapi Pak Gita memulai pendidikan militernya dengan Sepamilsuk (Sekolah Perwira Militer Sukarela) ABRI II. Jadi jalurnya bukan Akademi Angkatan. Sepamilsuk ABRI II tahun 1989 merupakan pendidikan pembentukan perwira secara terpusat dan lintas matra. Pesertanya berasal dari lulusan perguruan tinggi umum. Mereka mengikuti pendidikan dasar keprajuritan dan pendidikan dasar golongan perwira di Bumimoro, Surabaya. Setelah itu barulah mereka masuk ke jalur dan kejuruan matra masing-masing. Jadi Bumimoro dalam konteks ini bukan berarti Gita mengikuti pendidikan AAL. Ini menjelaskan perbedaan informasi tersebut. Gita adalah sarjana Teknik Mesin ITB. Ia direkrut melalui jalur Sepamilsuk. Setelah pendidikan militer, ia kembali menyelesaikan kuliahnya. Menariknya, jalur itu kemudian membawanya menjadi perwira TNI AU. Lalu belajar lagi. S-2. S-3. Bahkan MBA. Jadi ada dua jalur masuk perwira militer saat itu: 1) Akademi Angkatan dan 2) Sepamilsuk. Pak Ahmad benar soal lokasi AAU. CHDI juga benar soal Bumimoro. ### Sebutannya Sepamilsuk ABRI II tahun 1989. Jadi semua unsur ABRI saat itu "pembentukannya dilaksanakan di Kodiklat TNI AL".

alasroban

Sangat setuju ide ini. Terutama di terapkan di sebelah selatan Grobogan. Di sana sampai ke kedung ombo umunya hutan jadi homogen. Yang terlihat hidup segan mai tak mau. Kalau hutan jadi situ di tumpang sari dengan bambu atau akstreemnya langsung konversi semua ke bambu. Maka ada 3 kuntungan sekaligus. - Problem kekeringan kekurangan air di grbogan yang rutin terjadi setiap tahun itu akan teratasi. karena hutan bambu lebih bagus menyerap air. - Hutan bambu 30% lebih banyak memprodksi oksigen. - lapangan pekerjaan di sektor supplu chain segalam macam produk bambu. Dan produk bambu itu adalah produk yang ramah lingkungan.

Liam Then

Kalau dipikir-pikir informasi chi Tiongkok industri bambunya sudah 70+ miliar dollar per tahun tapi masih terserap lebih 95% untuk pasar domestik, tidak banjir ke pasar ekspor, ini bukannya sesuatu yang menarik? Dan misalnya kalau pemerintah kita tiru dan terapkan di Indonesia, mulai, kasih insentif, dan galakan sektor ini. Bukankah ini akan ciptakan satu sektor ekonomi baru yang bakalan mampu menciptakan tenaga kerja luar biasa banyak? Tak usahlah sampai 29jt kayak Tiongkok , cukup ekstra 2jt saja, bukankah itu merupakan prestasi besar bagi pemerintah? Kalau perbanyak lahan sawit, akan pengaruhi harga ekspor dan ciptakan tekanan ke harga serapan TBS. Dan tidak semua lahan di Indonesia cocok untuk sawit. Kalau dorong dan galakan ke intensifikasi industri bambu, sama sekali tak akan ganggu sawit. Banyak pedesaaan langsung bisa tancap gas produksi. Spesies bambu nasional,khas Indonesia juga sangat banyak yang cocok untuk jadi bambu industri. Bambu tidak butuh pemupukan intensif, sistem perawatan yang lebih sederhana, lebih tak rakus lahan, dan bisa dikerjakan oleh hampir setiap orang di pedesaan, pelatihan bisa sangat sederhana, membangun supply chain industrinya juga sepertinya tidak terlalu rumit, dan bahkan kalau mau nekat, PT.DI dan Pindad , Krakatau steel, sebagai gudangnya insinyur bisa dilibatkan untuk bikin mesin pemrosesan asli dalam negeri? Data yang saya dapat sangat seksi sekali, bahkan saya bandingkan langsung dengan output produksi TBS sawit.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TENTANG “LIFE BEGINS”… Ada ungkapan dalam bahasa Inggris: “Life begins at 40.” Bisa juga 50. Atau 60. Tergantung siapa yang menjalani. Ungkapan itu sebenarnya bukan soal angka. Lebih kepada cara melihat kehidupan. Pada usia tertentu, seseorang atau "perusahaan" bisa saja baru merasa benar-benar mulai hidup. Pengalaman sudah banyak. Kesalahan sudah cukup. Kebijaksanaan mudah-mudahan ikut bertambah. Lalu bagaimana dengan "ungkapan" ini? “Life is still strong at 70.” Masih perkasa, masih punya tenaga di usia 70. ### Kalau tidak percaya, ikuti saja Muktamar Perusuh #7. “Life is still strong at 70.” Kalau masih ingin sampai 80, jangan berhenti. Ikuti juga Muktamar Perusuh #8. Rumusnya sederhana. Nomor muktamar dikalikan sepuluh. Muktamar #7: 70. Muktamar #8: 80. Dan apakah masih akan ada Muktamar #9? Kita belum tau. Pada usia itu, yang perlu diperpanjang mungkin bukan umur. Rumusnya, saat Muktamar, cari perusuh "senior". Misalnya: Cak Mul..

Liam Then

semakin sukses industri bamboo composite Indonesia, mungkin justru semakin tinggi peluang kita mempertahankan kayu alam Indonesia sebagai barang bernilai tinggi di masa depan. Papan slab alami di USA, yang digunakan untuk bikin meja seperti model meja kayu randu Pak DI itu satu potong sudah capai nilai ribuan dollar. Berapa puluh atau ratus tahun untuk bisa tumbuh sampai cukup besar diameternya untuk seukuran meja? Di masa depan barang seperti ini akan makin langka. Di China, meja kayu tertentu, yang uniknya sesuai dengan kayu yang ada di papua, sebiji bisa capai puluhan sampai ratusan juta rupiah. Semakin sukses industri bamboo composite Indonesia, mungkin justru semakin tinggi peluang kita mempertahankan kayu alam Indonesia sebagai barang bernilai tinggi di masa depan.

Liam Then

Ada penelitian, katanya spesies bambu tertentu untuk iklim Indonesia, oitput produksinya bisa capai 50 ton/hektar. Tak usahlah banyak -banyak anggap hemat pupuk, 20 ton/ha saja. Produk plywood kita, sekarang kayaknya sumber utamanya dari hutan Papua. Itu berapa jauh jaraknya ke Jawa? Kalau digalakan di pedesaan Jawa, Sumatera, meskipun produk akhirnya agak kalah dengan produk hutan Papua. Setidaknya hutan Papua bisa lestari, dan hemat BBM untuk kirim kayu dari Papua. Dan simpan kekayaan hutan Papua untuk masa depan. Karena kayu di masa depan bakal jadi luar biasa berharga. Bukan itu saja, hutan alami di masa depan bakalan tak terkira nilainya.

Liam Then

Jepang sangat memperhatikan material packaging karena kayu solid dapat menjadi media penyebaran hama. Tetapi menariknya, aturan Jepang mengecualikan plywood, particle board, OSB, veneer dan material yang sangat diproses dari kategori WPM yang harus menjalani perlakuan ISPM 15 seperti kayu solid. Jadi kalau bamboo composite dapat dikategorikan dan memenuhi persyaratan sebagai highly processed material, itu bisa menjadi keunggulan yang sangat menarik. Eropa juga miliki persyaratan serupa, tentang resiko hama dari produk kayu hutan. 30+% plywood, panel kayu Jepang itu asalnya dari Indonesia. Tiga produk yang kayaknya potensial. 1. Pallet dan packaging Produk relatif sederhana, spesifikasi jelas, volume besar. 2. Industrial crate / machinery packaging Yang membutuhkan kekuatan, presisi dan durability lebih tinggi. 3. Plywood / engineered construction board. Jangan-jangan, Tiongkok sudah kincah di sini.

Liáng - βιολί ζήτα

iseng-iseng saja. 有句老話說: 生命並非始於特定的年齡,而是始於你能夠振翅高飛之時。 ---> There is an old saying: Life does not begin at a specific age, but rather when you are able to spread your wings and soar. Sebagai contoh (perorangan)..... Kolonel Harland David Sanders (Pendiri Kentucky Fried Chicken) baru bisa "membentangkan sayapnya dan terbang tinggi" diusianya yang sudah senja (65-70 tahun)..... Pun demikian dengan perusahaan..... Perjuangan yang pantang menyerah, konsistensi yang tinggi, perencanaan yang baik, dan lain sebagainya..... suatu saat akan tiba masa yang akan menjadi "miliknya".....

gubernur kota

Prof Juve mau konsisten dukung yang mana? Kemarin2 antusias dukung Bapak Aing. Sekarang lirikannya udah beda lagi. Kalau seperti ini, nasehat prof membingungkan pemilih.

Liam Then

Ilusi TKDN 44,69%: Dalam industri aviasi, TKDN tidak dihitung berdasarkan bobot fungsional vital, melainkan nilai keekonomian perakitan dan komponen sekunder. Jika 55% sisa komponen yang belum TKDN itu berisi "otak" (avionik) dan "jantung" (mesin), maka TKDN 44% itu secara teknis operasional bernilai nol begitu terjadi boikot. Pesawat tidak bisa terbang cuma dengan 44% airframe dan jok kursi buatan lokal. Itu bukan kata saya @Bang Agus, tapi kata gemini yang saya set tak boleh basa basi, sopan santun. Bukan saya tak bangga PT.DI mampu bikin pesawat. Saya sering tulis prestasi PT DI berhasil terbangkan Gatotkoco pesawat turboprop fly by wire pertama di dunia. Tapi kita tentu ingat kisahnya , disuruh tutup kan? Sebagai syarat pencairan pinjaman. Berapa ratus juta dollar atau miliar dollar terbuang sia-sia karenanya? TKDN Gatotkoco dulu juga tidak main-main. Apa yang menjamin hal itu tidak terulang? Dan sebenarnya saya ingin mempertanyakan klasifikasi bobot TKDN nasional kita. 1% di satu sisi apakah berbanding sepantar dengan 1 % disisi lainnya? Ataukah memang didispensasi supaya sebuah produk blasteran bisa dianggap made in Indonesia? Saya hari ini benar-benar memikirkan arti kata "strategis" murni dari arti katanya.

Liam Then

Saya cuma merasa industri ini sangat rentan ,volatil, karena unsur pernak-pernik komponen terpentingnya yang kita sangat tergantung pada supply luar. Jadi agak sulit kalau mau kita masukan sebagai satu industri strategis. Turkiye saja misalnya, sampai butuh menekankan, sudah dapat lampu hijau dari pihak tertentu untuk supply mesin KAAN mereka. Padahal mereka ini anggota NATO resmi. Dulu saya ingat, TNI AU diembargo suku cadang F-16. Apa yang menjamin kestrategisan industri PT DI. Kalo misal sewaktu-waktu diputuskan untuk "dilumpuhkan" oleh sesuatu di sana? Atau dijadikan sebagai alat tekanan geopolitik tertentu?

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Liam.. PTDI: BUKAN SEKADAR MENJUAL PESAWAT.. Pak Liam, saya kira kegelisahan Bapak itu justru pertanyaan yang sehat. Dan penting. Benar. Harga pesawat tidak otomatis menjadi nilai tambah seluruhnya bagi Indonesia. Ada mesin, avionik, material, komponen, lisensi, dan berbagai intellectual property yang masih berasal dari luar. Dollar pun ikut terbang. Tetapi saya kira ada satu hal yang perlu kita lihat lebih positif. PTDI bukan sekadar merakit pesawat. N219, misalnya, sudah memiliki TKDN 44,69%. PTDI juga memiliki kemampuan desain dan sertifikasi. Artinya, sebagian nilai tambah memang sudah tinggal di dalam negeri. Yang lebih penting adalah efek berikutnya. Pesanan pemerintah jangan berhenti sebagai transaksi PTDI. Harus menjadi lokomotif bagi pemasok lokal, engineering, MRO, riset, pendidikan, dan industri komponen. Jadi pertanyaannya bukan hanya: Berapa rupiah yang tersisa setelah impor? Pertanyaan yang lebih strategis: Berapa kemampuan industri baru yang lahir karena "pesanan" itu? Kalau itu terjadi, pesawatnya tidak hanya terbang membawa penumpang. Ia juga membawa industri Indonesia naik kelas. Pak Liam justru membantu mengingatkan kita agar jangan berhenti pada angka nilai kontrak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 189

  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Liam Then
      Liam Then
    • Wilwa
      Wilwa
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Wilwa
      Wilwa
  • sinung nugroho
    sinung nugroho
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • DeniK
    DeniK
  • DeniK
    DeniK
  • Hariansyah Regae
    Hariansyah Regae
  • Hariansyah Regae
    Hariansyah Regae
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Wilwa
    Wilwa
  • yea aina
    yea aina
    • yea aina
      yea aina
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Yushua Lie (Lie ing hua yushua)
    Yushua Lie (Lie ing hua yushua)
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Tom Rusdi
      Tom Rusdi
  • Ibnu Shonnan
    Ibnu Shonnan
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Wilwa
      Wilwa
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
  • Tivibox
    Tivibox
    • Wilwa
      Wilwa
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Ardi Suhamto
    Ardi Suhamto
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Wilwa
      Wilwa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Fendi Njau
    Fendi Njau
    • Wilwa
      Wilwa
  • Wilwa
    Wilwa
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Fajar Harapan
      Fajar Harapan
  • Tivibox
    Tivibox
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Tivibox
      Tivibox
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Wilwa
      Wilwa
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Wilwa
      Wilwa
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • ra tepak pol
      ra tepak pol
    • Em Ha
      Em Ha
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • mario handoko
      mario handoko
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Wilwa
      Wilwa
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Ulil Abshor
    Ulil Abshor
  • Wilwa
    Wilwa
  • Eyang Sabar56
    Eyang Sabar56
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
    • MULYADI PEGE
      MULYADI PEGE
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Ahmad Zuhri
    Ahmad Zuhri
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Ahmad Zuhri
      Ahmad Zuhri
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Mada Suradi
    Mada Suradi
    • Taufik Hidayat
      Taufik Hidayat
  • alasroban
    alasroban
  • Mada Suradi
    Mada Suradi
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Mada Suradi
    Mada Suradi
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • alasroban
    alasroban
  • Sugi
    Sugi
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Ima Lawaru
    Ima Lawaru
  • nur cahyono
    nur cahyono
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman