Pemerintah Perketat Ekspor Sawit, Begini Respons Pengusaha

Pemerintah Perketat Ekspor Sawit, Begini Respons Pengusaha

Reflanting sawit di Bengkulu Utara-Berlian-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Pemerintah Republik Indonesia perketat ekspor minyak sawit atau menekan batas maksimal penjualan sawit ke luar negeri

Rasio pengiriman sawit oleh eksportir ke luar negeri diperketat dengan akan dikurangi dari semula delapan kali lipat menjadi enam kali lipat. 

Dikutip dari Reuters, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Budi Santoso, mengatakan pengurangan rasio ekspor ini untuk memastikan minyak goreng dalam negeri cukup untuk mengadapi bulan ramadan dan Idul Fitri. 

BACA JUGA:Cara Daftar DTKS Agar Dapat 3 Bansos Tahun 2023, Bisa Pakai Aplikasi di Play Store

BACA JUGA:Kuota Pendaftaran PPPK Kemenhub Belum Terpenuhi, Tersedia Lowongan Lulusan SMA

"Ini sebagai langkah preventif terhadap potensi kenaikan harga minyak goreng dalam negeri karena permintaan yang meningkat pada bulan Ramadan dan Idul Fitri yang akan turun pada Maret dan April 2023," katanya, pekan kemarin.

Namun langkah tersebut juga akan dievaluasi dan akan mempertimbangkan ketersediaan pasokan dan harga minyak goreng pada 2023. 

Adanya kebijakan perketat ekspor minyak sawit tersebut ditanggapi Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono.

Ia mengatakan pihaknya telah menyampaikan hasil evaluasi terkait kekhawatiran pemerintah tentang pasokan minyak goreng pekan lalu. 

Hal tersebut terkait program biodiesel pemerintah dan ekspektasi penurunan produksi minyak sawit pada kuartal pertama.

BACA JUGA:Aturan Baru BBM Resmi Berlaku, Bensin Jenis Ini Lenyap di SPBU 1 Januari 2023, Cek Harga Lengkap Pertalite, Vivo, BP dan Shell

BACA JUGA:4 Bandara AP II Terima Sertifikat dari BNPT, Miliki Standar Pengamanan Cegah Terorisme

Ia menjelaskan pemerintah berencana meningkatkan komponen wajib minyak sawit dalam biodiesel menjadi 35% mulai 1 Februari 2023. Sementara terkait rasio ekspor, Eddy mengatakan hal tersebut perlu dievaluasi secara berkala dalam jangka pendek untuk menghindari kelebihan pasokan dan kemarahan petani sawit.

"Rencana tersebut perlu dievaluasi berkala dalam jangka pendek. Kenapa?, karena kalau ramalannya melesetmeleset dan hasilnya tidak turun drastis makan tandan buah aegar akan menumpuk dan membuat petani marah. Nanti petani yang kena imbasnya," ujar Eddy. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: