Jeritan Hati Rojali dan Rohana, Mal Sepi Jadi Tempat Pelesir Gratis karena Dompet Menipis
Bukan untuk berbelanja, pergi ke mal hanya untuk melihat-lihat sambil mengajak keluarga. --Bianca Khairunnisa
"Mal menawarkan pengalaman multi-sensorik: mencium aroma makanan, mendengar musik latar, dan melihat langsung produk. Pengalaman ini adalah stimulus positif yang penting bagi kesehatan mental, dan ini tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh layar gawai," tutur Vera.

Belanja online. Ilustrasi Foto: shopping--
Perubahan Dramatis Menuju Toko Daring
Pergeseran masif ke toko daring atau e-commerce menjadi faktor utama 'senyapnya' mal.
Perubahan perilaku ini, meski menawarkan kemudahan dan efisiensi, juga membawa dampak psikologis tersendiri pada masyarakat:
1. Risiko Perilaku Konsumtif dan Kecanduan Belanja
Kemudahan one-click-buy dan diskon yang agresif di toko daring memicu perilaku belanja kompulsif (Compulsive Buying Disorder atau Oniomania).
"Akses yang terlalu mudah dan tanpa batas dapat menghilangkan kontrol diri terhadap pengeluaran. Ini menciptakan siklus kepuasan instan yang diikuti oleh rasa bersalah dan tekanan finansial," tegas Vera.
2. Kesenjangan Digital dan Stres
Tidak semua lapisan masyarakat siap beradaptasi dengan toko daring.
Kelompok usia tertentu (lansia) atau mereka yang tinggal di daerah dengan akses internet terbatas mungkin merasa terisolasi secara digital, meningkatkan stres dan rasa tidak berdaya karena kesulitan mengakses barang dan layanan esensial.
3. Reduksi Kualitas Interaksi Sosial
Belanja daring menghilangkan interaksi tatap muka yang terjadi antara pembeli dan penjual, atau antar sesama pengunjung.
"Interaksi singkat ini sejatinya adalah 'vitamin sosial' yang berkontribusi pada kesejahteraan emosional. Hilangnya interaksi ini berpotensi meningkatkan rasa kesepian, meskipun secara teknologi kita terhubung," pungkas Vera.
Adaptasi dan Solusi Jangka Panjang
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: