Wamenkes Dante Ungkap Zero Dose Imunisasi Anak Meningkat Usai Pandemi COVID-19
Wakil Menteri Kesehatan Dante S Harbuwono mengakui imunisasi pada anak-anak pernah mengalami penurunan saat tragedi pandemi COVID-19. Hal itu karena saat pandemi COVID-19 pihaknya terkonsentrasi pada penanganan COVID-nya, maka imunisasi di posyandu-posyan-Dok.Diskominfo Kota Bandung-
BANDUNG, DISWAY.ID -- Wakil Menteri Kesehatan Dante S Harbuwono mengakui imunisasi pada anak-anak pernah mengalami penurunan saat tragedi pandemi COVID-19.
Hal itu karena saat pandemi COVID-19 pihaknya terkonsentrasi pada penanganan COVID-nya, maka imunisasi di posyandu-posyandu menurun.
Akibatnya terjadi beberapa tahun kemudian. Salah satu di antaranya adalah KLB campak yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Kalau kita bicara tentang imunisasi, ada istilah yang namanya zero dose. Zero dose itu anak-anak yang tidak pernah mendapatkan vaksinasi atau imunisasi. Kita pakai istilah imunisasi karena sudah dipakai sejak dulu.;Mereka tidak pernah mendapat imunisasi campak, polio, DPT, sehingga tubuh mereka tidak terlindungi, seperti telanjang," tegas Dante usai kunjungan lapangan dan media briefing di ruang multimedia UPTD pelatihan kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Selasa 12 Mei 2026.
Dante pun mengakui bahwa pengambil keputusan imunisasi itu bukan anaknya, melainkan orang tuanya.
Sehingga, orang tuanya lah yang harus diedukasi.
Kata Dante, ada beberapa hoaks di media, ada yang mengatakan mereka tidak mau diimunisasi karena menganggap imunisasi punya efek samping.
"Saya jelaskan dulu, pernah ada hoaks yang mengatakan bahwa salah satu imunisasi menyebabkan autis. Ternyata studi empiris yang telah dilakukan terhadap jutaan orang di seluruh dunia tidak pernah menunjukkan efek samping autis. Jadi aman-aman saja. Itu yang pertama. Kemudian isu kedua penyebab zero dose adalah isu agama. Saya akan jelaskan bahwa salah satu imunisasi yang dilakukan adalah imunisasi campak. Memang pada bahan dasarnya, untuk memisahkan sel-sel growth-nya menggunakan tripsin babi. Tetapi kemudian dipurifikasi atau dimurnikan, dipisahkan hingga akhirnya pada produk jadinya tripsin babi itu sudah tidak ada lagi," tegasnya.
BACA JUGA:Bahlil Pastikan Stok BBM dan LPG Nasional Aman, Prabowo Soroti IUP Mangkrak
Dante meminta media menyampaikan bahwa vaksin yang dulu dianggap mengandung tripsin babi, vaksin campak ini, sama sekali tidak mengandung unsur yang berasal dari tripsin babi tersebut dan sudah diuji oleh MUI.
"Jadi isu agama kadang-kadang juga menjadi tantangan buat kita dalam menjelaskan kepada masyarakat. Peran tokoh agama menjadi sangat penting. Dan kita sudah menjelaskan, dibantu oleh tokoh-tokoh agama, bahwa imunisasi itu halal dan thayib, halal dan baik bagi masyarakat. Kalau kita tidak melakukan imunisasi secara cepat, zero dose ini tidak ditangani dengan cepat, maka akan menjadi masalah di kemudian hari, turun sedikit saja, lalu timbul KLB," keluhnya.
Untuk memasifkan sosialisasi perlunya vaksin ini kata Dante, ujung tombaknya ada di posyandu.
Hal itu karena 10 ribu an puskesmas tak akan memampu meng-cover zero dose, namun 300 ribu an posyandu mampu mengcover itu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: