Tanggung Jawab Moral Kaum Inteligensia
Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia –-dok disway-
Sebaliknya, inteligensia organik lahir dari perubahan struktur sosial dan ekonomi.
Mereka tumbuh bersama persoalan konkret masyarakatnya dan berperan aktif sebagai jembatan antara pengetahuan dan realitas sosial.
Inteligensia organik tidak hanya memproduksi gagasan, tetapi juga terlibat dalam proses membangun kesadaran kolektif, mengartikulasikan kepentingan publik, serta mendorong perubahan menuju keadilan sosial.
BACA JUGA:Menelusuri Mozaik Islam di Turki
Dalam perspektif ini, kaum intelektual tidak cukup hanya menjadi penjaga menara gading pengetahuan.
Mereka dituntut hadir sebagai aktor perubahan yang peka terhadap penderitaan sosial, berani bersuara, dan bersedia mengambil risiko moral.
Di sinilah letak esensi tanggung jawab kaum inteligensia menjadikan ilmu bukan sekadar alat analisis, melainkan kekuatan etis untuk membela kebenaran dan memperjuangkan kemanusiaan.
Menuju Perguruan Tinggi Berdampak
Saat ini, Indonesia menuntut perguruan tinggi untuk melampaui peran tradisionalnya sebagai lembaga pengajaran dan benar-benar menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Tantangan itu tidak kecil. Rasio lulusan pendidikan tinggi di Indonesia masih berkisar 10 persen dari total penduduk.
BACA JUGA:Sinergi Baru Akademisi Indonesia dan Turki
Angka ini menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi masih terbatas, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa kualitas dan relevansi pendidikan tinggi harus terus diperkuat agar mampu menjawab kebutuhan bangsa yang semakin kompleks.
Perguruan tinggi juga dituntut menyiapkan talenta unggul bagi dunia usaha dan pemerintahan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: