Pinjol, Pedang Bermata Dua: Dari Solusi Instan ke Jerat Utang Tanpa Akhir
Kemudahan memperoleh pinjaman uang melalui aplikasi pinjaman online (pinjol) membuat banyak orang terlena-Pixabay-
Sementara itu menurut data statistik OJK, kondisi lanskap fintech yang tercatat pada Februari 2024 juga menunjukkan bahwa terdapat setidaknya kurang lebih 1,4 juta pengguna transaksi lender.
Lebih kurang sekitar 123 juta borrower yang mengakses kredit, dan lebih dari Rp 806.49 triliun jumlah pinjaman yang telah terdistribusi ke pengguna.
Dengan proses peminjaman yang terbilang cepat dan instan, tidak heran mengapa sebagian pekerja atau pengusaha memilih layanan pindar untuk menjadi pilihan utama untuk mendapatkan dana cepat untuk setiap kendala finansial yang dihadapi, terutama ketika laju perekonomian masih terus naik turun dan tidak stabil.
Ekonom : Pinjol Tidak Bisa Dijadikan Penggerak Ekonomi
Kendati begitu, tidak sedikit pihak Ekonom maupun Pakar Ekonomi yang menekankan bahwa pinjol sendiri tidak bisa secara terus menerus dijadikan sebagai mesin penggerak ekonomi rakyat.
Bukan tanpa alasan.
Menurut Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, walaupun popularitas pinjol menandakan kemajuan teknologi keuangan.
Hal tersebut juga mencerminkan tekanan yang lebih dalam pada ekonomi rumah tangga.
BACA JUGA:Mutu BBM dan Biofuel Global
BACA JUGA:Pertamina, Swasta dan Base Fuel
"Pinjol telah menjadi “mesin daya beli” bagi banyak masyarakat, dan di balik pertumbuhannya tersimpan cermin rapuhnya fondasi ekonomi nasional," tegas Achmad.
"Begitulah nasib pinjol di Indonesia: awalnya menjadi solusi bagi keterbatasan akses keuangan, kini berubah menjadi sumber utama daya beli masyarakat," sambungnya.
Lebih lanjut, Achmad juga turut menambahkan bahwa dengan akses mudah, proses singkat, dan promosi agresif, pinjol justru malah meningkatkan potensi gagal bayar, dan tekanan psikologis yang tidak kecil.
"Di era digitalisasi keuangan, kemudahan pinjaman justru melahirkan generasi dengan beban finansial yang semakin berat. Inklusi keuangan meningkat, tetapi literasi keuangan tertinggal," tutur Achmad.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: