YOK.., KITA SANTAI, Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Pengamat
Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Pengamat-Illustrasi-
Soal ijazah, misalnya. Perdebatan bisa panjang sekali. Ketika yang satu bertanya, yang lain menjawab. Yang menjawab ditanya lagi. Yang bertanya kemudian dituduh macam-macam. Muncul ahli hukum, ahli forensik, ahli politik, ahli dokumen, ahli media sosial, bahkan mungkin sebentar lagi ahli tinta printer.
BACA JUGA:Krisis Kosakata Membatasi Kecerdasan Bangsa
Sebuah dokumen bisa menjadi bahan perdebatan nasional. Orang yang sebenarnya tidak pernah melihat dokumen aslinya pun bisa berbicara dengan keyakinan luar biasa. “Menurut saya, ini begini.” “Tidak, menurut saya begitu.” “Berdasarkan analisis saya...”
Pertanyaannya sederhana: analisis berdasarkan apa? Di sinilah kita kadang perlu berhenti dan menyanyikan lagu Rhoma: Yok.., kita santai.
Bukan berarti persoalan tidak penting. Bukan berarti kritik harus dihentikan. Bukan pula berarti masyarakat harus diam ketika ada persoalan publik. Tidak.
Demokrasi membutuhkan kritik. Negara membutuhkan pengawasan. Kekuasaan memang harus diawasi. Tetapi kritik yang sehat membutuhkan pengetahuan, data, ketelitian, dan kesediaan untuk mengatakan: “Saya belum tahu.”
Kalimat terakhir ini semakin mahal harganya. Orang lebih mudah berkata, “Saya tahu,” daripada berkata, “Saya belum tahu.” Padahal, dalam dunia akademik, mengakui ketidaktahuan justru merupakan awal dari pengetahuan.
BACA JUGA:Darah Muda, Darah Viral
Kemudian muncul pula pembicaraan tentang Wantimpres dan berbagai struktur penasihat kekuasaan. Nama-nama dibahas. Jabatan dihitung. Jumlah anggota dipersoalkan. Komposisi dianalisis. Ada yang mendukung, ada yang mencibir, ada yang membuat meme.
Semua sibuk berbicara. Tidak ada yang salah dengan membicarakannya. Tetapi sesekali kita perlu bertanya: apakah seluruh energi publik harus habis untuk membicarakan siapa yang duduk di kursi penasihat, sementara masyarakat masih sibuk memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Di warung kopi, orang mungkin sedang mendiskusikan siapa yang cocok menjadi penasihat Presiden. Di rumah sebelah, seorang ibu sedang menghitung uang belanja. Di pasar, pedagang sedang memikirkan harga bahan pokok.
Di desa, petani memikirkan pupuk. Di jalan, pengemudi memikirkan harga bahan bakar dan biaya perawatan kendaraan.
BACA JUGA:Putusan MK soal Gibran: Sudah Dimasak, Sudah Dihidangkan, tetapi Tak Dimakan
Orang tua memikirkan uang sekolah anak. Anak muda memikirkan pekerjaan. Dan kita di ruang publik sedang berdebat panjang tentang siapa yang paling layak menjadi pengamat tentang orang yang menjadi penasihat orang yang menasihati Presiden. Agak rumit.
Bahkan kalau Rhoma Irama mendengarnya mungkin ia akan berkata: “Yok kita santai dulu, Bang.” Yang lebih lucu lagi adalah ketika kita masuk ke perdebatan tentang parliamentary threshold. Istilahnya keren. Bahasa Inggris pula. Parliamentary threshold.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: