YOK.., KITA SANTAI, Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Pengamat
Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Pengamat-Illustrasi-
Begitu mendengarnya, kita merasa sedang berada di ruang seminar internasional. Padahal substansinya menyangkut bagaimana suara rakyat diterjemahkan menjadi kursi di parlemen.
Ini tentu persoalan penting dalam demokrasi. Tetapi lagi-lagi pertanyaannya adalah: seberapa jauh perdebatan itu dipahami masyarakat luas?
BACA JUGA:Gibran, He Is Still the Man
Seorang ibu di pasar mungkin lebih membutuhkan jawaban tentang mengapa harga cabai naik daripada penjelasan panjang mengenai ambang batas parlemen. Seorang buruh mungkin lebih membutuhkan kepastian pekerjaan daripada debat tentang konfigurasi politik pasca-pemilu.
Seorang nelayan mungkin lebih memikirkan cuaca, harga solar, dan hasil tangkapan daripada formula matematis kursi parlemen. Seorang petani mungkin lebih membutuhkan harga gabah yang layak daripada mendengar perdebatan para elite mengenai siapa memperoleh berapa kursi.
Bukan berarti threshold tidak penting. Penting. Tetapi demokrasi jangan sampai hanya sibuk membicarakan cara memperoleh kursi, sementara lupa bertanya untuk apa kursi itu digunakan. Kursi parlemen bukan tujuan akhir demokrasi. Kursi hanyalah alat.
Tujuan akhirnya adalah bagaimana kekuasaan politik menghasilkan kehidupan publik yang lebih baik. Kalau kursinya sibuk diperebutkan, tetapi rakyat tetap kesulitan, maka demokrasi akhirnya hanya menghasilkan permainan kursi.
BACA JUGA:Kesejahteraan yang Ditulis dalam Angka: Membaca Manipulasi Aturan Animal Farm pada Kebijakan MBG
Dan kita semua tahu, permainan kursi itu sejak zaman sekolah dasar sudah terkenal: siapa cepat dia dapat.
Bedanya, sekarang kursinya mahal dan penontonnya satu negara. Di tengah semua keramaian itu, lagu “Santai” mengandung pesan yang sebenarnya sederhana tetapi dalam. Manusia membutuhkan jeda.
Bukan hanya tubuh yang membutuhkan istirahat. Pikiran politik juga membutuhkan istirahat dari kebisingan. Sebab pikiran yang terus-menerus dijejali perdebatan bisa kehilangan kemampuan membedakan mana persoalan penting dan mana persoalan yang hanya ramai.
Kita hidup dalam zaman ketika yang viral sering dianggap penting, dan yang penting belum tentu viral. Itulah paradoks komunikasi modern. Persoalan jalan rusak mungkin tidak viral. Harga kebutuhan pokok mungkin tidak viral.
Anak putus sekolah mungkin tidak viral. Petani kehilangan pasar mungkin tidak viral. Nelayan kesulitan mendapatkan bahan bakar mungkin tidak viral.
BACA JUGA:Mirasantika: Kenikmatan yang Menagih Masa Depan
Tetapi sebuah pernyataan kontroversial seorang pejabat bisa menjadi berita selama tiga hari. Satu potongan video bisa menjadi bahan perdebatan nasional. Satu kalimat seseorang bisa dipotong menjadi judul, kemudian menjadi meme, kemudian menjadi pertengkaran.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: