YOK.., KITA SANTAI, Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Pengamat
Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Pengamat-Illustrasi-
Akhirnya kita tidak lagi berdiskusi tentang persoalan. Kita berdiskusi tentang potongan persoalan. Di sinilah masyarakat membutuhkan apa yang dalam tradisi intelektual Islam disebut tabayyun: memeriksa, meneliti, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.
Tidak semua yang terdengar harus dipercaya. Tidak semua yang viral harus dibahas. Tidak semua yang bisa dikomentari harus dikomentari. Dan barangkali, inilah salah satu bentuk kecerdasan yang paling sulit pada zaman sekarang: tahu kapan harus berbicara dan tahu kapan harus diam.
Rhoma Irama tentu tidak sedang mengajarkan manusia menjadi malas. “Yok kita santai” bukan berarti “yok kita tidak peduli.” Santai bukan apatis. Santai adalah kemampuan mengatur jarak dari persoalan agar kita tidak kehilangan kejernihan.
BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4-Habis)
Orang yang terlalu dekat dengan masalah kadang tidak bisa melihat masalah. Seperti orang yang terlalu dekat dengan cermin: yang terlihat hanya pori-pori. Kita perlu mundur sedikit agar wajah terlihat utuh. Begitu pula dalam politik. Kita perlu mengambil jarak dari fanatisme.
Jangan karena kita menyukai seseorang, semua kesalahannya dianggap benar. Jangan karena kita tidak menyukai seseorang, semua tindakannya dianggap salah. Jangan karena kita berada di kelompok tertentu, maka kebenaran harus selalu mengikuti kelompok kita.
Demokrasi yang sehat membutuhkan warga yang kritis, tetapi juga waras. Kritis tanpa kewarasan menjadi kegaduhan. Kewarasan tanpa keberanian menjadi kepasrahan. Yang kita perlukan adalah kritik yang jernih dan kepedulian yang tidak kehilangan akal sehat.
Mungkin sudah waktunya para pengamat, termasuk kita sendiri, sesekali mengambil jeda. Tidak semua malam harus dihabiskan untuk berdebat. Tidak semua grup WhatsApp harus diberi komentar. Tidak semua berita harus kita bantah. Tidak semua isu harus kita jadikan perang.
BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)
Kadang-kadang lebih baik menikmati kopi, berbicara dengan keluarga, membaca buku, berjalan pagi, atau sekadar duduk melihat langit. Sebab hidup terlalu pendek kalau seluruh energi kita habiskan untuk membuktikan bahwa pendapat kita paling benar.
Dan rakyat sebenarnya tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang selalu berkata: “Menurut saya...” Rakyat membutuhkan lebih banyak orang yang berkata: “Apa yang bisa saya lakukan?”
Itulah perbedaan antara komentator dan warga negara. Komentator berhenti pada kata-kata. Warga negara bergerak menuju tindakan. Maka, ketika besok pagi televisi kembali ramai membahas ijazah, Wantimpres, parliamentary threshold, koalisi, oposisi, survei, elektabilitas, dan segala macam istilah politik lainnya, tidak ada salahnya kita mendengarkan kembali lagu Rhoma Irama.
Bukan untuk menghindari politik. Bukan untuk membungkam kritik. Tetapi agar kita tidak kehilangan kewarasan di tengah kebisingan. Karena demokrasi membutuhkan suara. Tetapi demokrasi juga membutuhkan keheningan untuk berpikir. Kita boleh berbeda pendapat. Boleh mengkritik. Boleh tidak setuju.
BACA JUGA:Ketika Imam Menjadi Diplomat Perdamaian
Boleh bertanya. Bahkan boleh keras. Tetapi sesekali... santai dulu. Tarik napas. Minum kopi. Peluk keluarga. Lihat anak-anak kita. Lihat tetangga kita. Lihat pasar. Lihat petani. Lihat buruh. Lihat nelayan. Lihat jalan yang rusak. Lihat sekolah. Lihat rumah sakit. Lihat kehidupan nyata.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: