YOK.., KITA SANTAI, Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Pengamat
Ketika Semua Orang Mendadak Jadi Pengamat-Illustrasi-
Ada satu lagu Rhoma Irama sang Raja Dangdut, yang terasa semakin relevan justru ketika zaman semakin ramai. Judulnya sederhana: “Santai.”
Lagu ini mengajak manusia berhenti sejenak setelah seharian bekerja dan berpikir. Otot yang tegang perlu dilemaskan. Saraf yang penat perlu diistirahatkan. Pikiran yang berputar-putar perlu diberi kesempatan untuk bernapas.
Tetapi, kalau lagu itu dinyanyikan pada zaman sekarang, barangkali Rhoma Irama harus menambahkan satu bait baru: Otot kejang karena bekerja, syaraf tegang karena berpikir, mulut lelah karena berdebat, besok debat lagi, jangan khawatir.
BACA JUGA:Jangan Habiskan Lauknya
Sebab kita hidup di zaman ketika banyak orang tidak hanya bekerja delapan jam sehari, tetapi juga berpendapat dua puluh empat jam sehari.
Bangun tidur membuka ponsel. Belum sempat minum kopi, sudah membaca pernyataan seorang tokoh. Belum selesai membaca, langsung muncul komentar. Belum selesai memahami komentar, muncul bantahan. Bantahan dibantah lagi.
Lalu muncul analis. Setelah analis berbicara, datang pengamat. Setelah pengamat berbicara, datang komentator. Setelah komentator selesai, muncul netizen yang merasa lebih tahu daripada semuanya.
Akhirnya, persoalan yang tadinya sederhana berubah menjadi seminar nasional tanpa moderator. Dan hebatnya, semua orang tampaknya memiliki gelar yang sama: Pengamat Segala Urusan.
Pagi hari menjadi pengamat politik. Siang menjadi ahli hukum. Sore berubah menjadi pakar konstitusi. Malam menjadi analis ekonomi. Menjelang tidur menjadi ahli pendidikan. Kalau masih belum mengantuk, masuk ke persoalan geopolitik internasional.
BACA JUGA:Sibuk Menoleh, Lupa Melangkah
Besok pagi, ilmunya sudah berganti lagi. Tidak perlu membaca buku. Tidak perlu membuka jurnal. Tidak perlu mengikuti proses persidangan. Cukup membaca tiga judul berita, dua potongan video, dan satu pesan WhatsApp, lalu lahirlah sebuah kesimpulan yang disampaikan dengan penuh keyakinan. “Menurut saya...”
Dua kata paling sederhana dalam bahasa Indonesia, tetapi kadang-kadang membawa beban seolah-olah pendapat itu baru saja turun dari langit.
Di sinilah lagu “Santai” terasa seperti teguran yang lembut. Rhoma mengingatkan bahwa manusia bukan mesin. Ada saatnya bekerja, ada saatnya berpikir, dan ada saatnya beristirahat.
Sayangnya, sebagian dari kita justru tidak mengenal tombol off pada pikirannya. Lihat saja percakapan publik belakangan ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: